Ibu Guru Yang Divonis 6 Bulan Penjara Setelah Dilecehkan Kepsek

Ibu Guru Yang Divonis 6 Bulan Penjara Setelah Dilecehkan Kepsek

Ibu Guru Yang Divonis 6 Bulan Penjara Setelah Dilecehkan Kepsek – Seorang guru di Lombok Barat, NTB Baiq Nuril Maknun (40) divonis 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta subsider 3 bulan penjara. Hukuman vonus Nuril tersebut disahkan tanggal 26 September 2018 dengan Nomor 574K/PID SUS/2018. Putusan tersebut diketuai oleh Majelis Hakim Agung, Sri Murwahyuni dan dengan anggota majelis hakim agung Maruap Dohmatiga dan hakim agung Eddy Army.

Baiq Nuril dijerat Undang-Undang ITE Pasal 27 ayat (1) jo Pasal 45 ayat (1). Bekerja sebagai staf honorer sebagai Tata Usaha Bagian Keuangan di SMAN 7 Mataram, Nuril hanya bisa pasrah. Sebenarnya kasus yang dihadapi Nuril tersebut heboh pada tahun 2017 lalu. Awalnya ketika Baiq Nuril merekam pembicaraan antara dirinya dengan M yang merupakan Kepala Sekolah di SMAN 7 Mataram. Dalam percakapan tersebut, M menceritakan mengenai hubungan badannya dengan seorang perempuan. Namun percakapan tersebut akhirnya terbongkar dan beredar di masyarakat.

Ibu Guru Yang Divonis 6 Bulan Penjara Setelah Dilecehkan Kepsek

Ibu Guru Yang Divonis 6 Bulan Penjara Setelah Dilecehkan Kepsek

Mengetahui hal tersebut, M merasa tidak terima dan melaporkannya ke pihak kepolisian pada tahun 2015. Pada tahun 2017, Kasus tersebut diproses oleh pihak kepolisian dan Nuril ditahan sejak Maret 2017. Nuril ditahan di tingkat penyidikan dan di masa persidangan, statusnya berubah menjadi tahanan kota. Pada Juli 2017, sejumlah aktivis membuat gerakan #SaveIbuNuril dan Pengadilan Negeri Mataram membebaskan Nuril. Namun di tingkat kasasi, Nuril justru divonis 6 bulan penjara dan denda Rp 500 juta.

Baiq Nuril memiliki tiga orang anak, yang diantaranya adalah anak pertama yang baru masuk SMA dan tinggal bersama neneknya di Lombok Tengah. Anak keduanya masih duduk di kelas 1 SMP, dan anak yang ketiganya baru duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga, Nuril membuka Taman Pendidikan Al Quran di rumahnya. Selain itu, Nuril juga menerima pesanan kue dan jajanan dari para tetangga di sekitar tempat tinggalnya.

Sedangkan suami Nuril, Lalu Muhammad Isnaini (40) hanya bekerja serabutan. Selain itu, dia juga menjalani profesi sebagai ojek online. Isnaini sempat menganggur sejak berhenti bekerja sebagai pramuniaga di Gili Trawangan. Menurut Komisioner Komnas Perlindungan Perempuan, Nurherawati bahwa putusan Mahkamah Agung kurang tepat. Nurherawati mengatakan bahwa seharusnya Mahkamah Agung menerapkan Peraturan MA nomor 3 tahun 2017, yakni mengenai pedoman hakim dalam menangani kasus perempuan yang berhadapan dengan hukum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X
%d blogger menyukai ini: