Batu Nisan Raksasa Di Probolinggo Yang Menjadi Viral

Batu Nisan Raksasa Di Probolinggo Yang Menjadi Viral – Seorang warga membangun sebuah nisan raksasa di ladang persawahan Dusun Ganting, Desa Patemon, Kecamatan Pajarakan. Di salah satu batu nisan tersebut ada tertulis Bintaos yang merupakan nama dari pemilik nisan tersebut, Nur Bintaos (42). Batu nisan raksasa setinggi 15 meter yang berdiri kokoh tersebut telah menjadi viral di sosial media. Dari salah seorang warga sekitar mengatakan bahwa Nur Bintaos pernah menjadi napi dalam kasus penggandaan uang.

Meskipun batu nisan raksasa tersebut dibangun di lahannya yang seluas 1 hektar, namun hal tersebut sempat menuai proses warga. Sebenarnya ulah Nur Bintaos tersebut bukanlah yang pertama kalinya. Nur Bintaos juga pernah membuat sebuah patung Dewi Sri atau Dewi Padi yang berukuran besar. Patung yang dibuatnya tersebut juga menjadi protes para warga dan menjadi polemik dari para ulama. Hingga akhirnya patung Dewi Sri raksasa tersebut harus dibongkar paksa oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Batu Nisan Raksasa Di Probolinggo Yang Menjadi Viral

Batu Nisan Raksasa Di Probolinggo Yang Menjadi Viral

Ulah Nur Bntaos dalam membuat batu nisan raksasa tersebut juga dinilai musrik karena ia seolah telah mempersiapkan ajalnya. Viral di media sosial membuat bayak warga yang menjadi penasaran dan berdatangan ke desa tersebut untuk melihat serta mendokumentasikan batu nisan raksasa tersebut. Tidak hanya itu saja, Nur Bintaos juga telah membangun dinding gapura dan gerbbang pintu masuk ke areal batu nisan raksasa.

Di dinding gapura yang telah dibuatnya tersebut ada tertulis “Inilah Makam Persiapan Bintaos Seseorang Yang Penuh Dosa. Lahir 9 Juni 1976 Wafat 4-8-2085 Perkiraan. Mengharap Rahmat Tuhan”. Selain karyanya yang tak wajar tersebut, Nur Bintaos juga memiliki Padepokan yang diberi nama “Bintaos”. Dalam padepokannya tersebut juga terdapat patung Budha dan beberapa tokoh pewayangan.

Selain itu juga, terdapat tulisan yang dianggap tidak wajar oleh warga yang tertulis “Tidak menerima telepon, SMSnya orang susah dan banyak hutang, karena takut ketularan”. Tulisan tersebut berada di atas sebuah fotonya ketika ia masih di ruang tahanan rutan Kraksaan ketika ia divonis 3 tahun penjara dengan kasus penggandaan uang. Salah satu warga setempat menuturkan bahwa padepokannya tersebut sudah ada sejak tahun 2010 lalu.

Nur Bintaos juga seringkali terlihat melakukan beberapa kegiatan yang mengarah kepada perbuatan syirik. Karena ulah dan kegiatan yang dilakukan Nur Bintaos tersebut, warga meminta kepada pemerintah agar turun tangan dan menindaklanjuti segala kegiatan dari Nur Bintaos.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

X
%d blogger menyukai ini: